Hindari Kefakiran Dan Keputusasaan
Setiap orang selalu diuji oleh Allah SWT dalam berbagai permasalahan, salah satunya kemiskinan dan kefakiran. Namun tidak ada seorang pun yang bisa menghindari kehidupan ini jika mereka memang ditakdirkan untuk hidup dalam kefakiran.
Namun, ada beberapa cara dan upaya yang bisa kita lakukan agar tidak mudah putus asa saat kita hidup dalam fakir atau kemiskinan. Syekh Abdul Qadir Al Jilani, yang juga dikenal sebagai "Raja Para wali'' (Sulthanul Auliya), memberi kita nasehat dan bimbingan dalam menghadapi pahitnya hidup ini.
Nasihat berharga Syekh Abdul Qadir Al Jilani membantu kita dan menjembatani hidup kita menuju stabilitas dalam menghadapi kesulitan. Syekh Abdul Qadir Jailani mengutarakan sederet tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi kefakiran.
Orang fakir yang mengeluh dan meratapi nasibnya dinilai sebagai perbuatan sia-sia yang tidak membawa manfaat. Dari sudut pandang ini, Syekh Abdul Qadir berpendapat bahwa orang fakir bisa menikmati kefakirannya melebihi orang kaya menikmati kekayaannya.
ومن شرطه أن يكون قلبه أقوى بصفاء الحال عند خلو يده من المال، فكلما قل الفتوح كثر طيب قلبه وقوته ونوره، وازداد فرحه بشعار الصالحين
Artinya: “Di antara syarat orang fakir adalah memiliki hati yang kuat dan bersih ketika tidak memiliki apa-apa di tangannya. Semakin sedikit rezeki yang diperoleh, semakin baik pula hati, kekuatan, dan cahayanya, serta semakin senang dengan nasihat orang-orang saleh.” (Syekh Abdul Qadir Jailani, Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1997] Juz II, halaman 291)
Sebaliknya, jika mata seseorang menjadi gelap karena kefakiran, ia mengeluh, atau bahkan marah kepada Allah SWT, maka ia sebenarnya tertipu dan telah melakukan dosa besar, dan ia harus segera bertaubat dan beristigfar kepada Allah SWT untuk mohon pengampunan.
Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani, fakir sejati adalah orang yang lemah lembut hatinya dan yakin kepada Allah SWT untuk masalah rizki, di antara banyak keluarga yang harus dinafkahi. Ia masih bekerja keras untuk mendapatkan rizki yang halal dan percaya bahwa Allah SWT akan menafkahi keluarganya melalui tangannya dan tangan orang lain.
Menurut Syekh Abdul Qadir Jailani, ada lima hal yang sebaiknya dilakukan orang ketika berada dalam kefakiran.
1. Jangan bingung.
Seorang fakir tidak bingung memikirkan rizki esok hari. Keperluannya hanya untuk hari ini, bukan untuk berangan-angan rizki esok hari. Memang masih menjadi misteri, namun tetap yakin bahwa Allah SWT telah memberikan rezeki untuk esok hari. Selain itu, seorang yang fakir harus yakin bahwa rizki yang diperoleh saat ini adalah yang terbaik.
2. Mengingat Kematian
Seorang fakir hendaknya selalu ingat bahwa kematian bisa datang kapan saja. Dengan cara ini, ia akan menikmati kefakiran, menyingkirkan angan-angan duniawi dan berkonsentrasi pada bekal yang ia persiapkan untuk kehidupan selanjutnya.
3. Kemandirian
Bersikap Mandiri, tidak bergantung pada orang lain, tidak mengharapkan pemberian dari orang lain merupakan suatu sikap mulia bagi umat muslim, khususnya bagi seorang fakir.
4. Tidak mengharapkan imbalan.
Apabila kebutuhan keluarga tercukupi dan ingin membaginya kepada orang lain, sebaiknya melakukannya karena Allah SWT dan tidak mengharapkan apapun dari mereka. Di sisi Allah, orang fakir yang mau berbagi jauh lebih baik daripada orang kaya yang hanya menerima dan tidak mau berbagi.
5. Wara
Seorang fakir hendaknya mempunyai wara. Dengan kata lain, perlu berhati-hati terhadap hal yang masih belum jelas status kehalalannya. Sekalipun keadaan ekonomi tidak baik, seorang fakir tidak boleh tergiur dengan barang haram atau perbuatan maksiat dan harus terus bekerja keras untuk mendapatkan rizki halal. Ahli hikmah berkata:
من لم يصحبه الورع في فقره أكل الحرام وهو لا يدري
Artinya: “Barang siapa yang tidak memiliki sikap wara saat fakir, maka tanpa sadar ia akan memakan barang haram.
Sumber: Syekh Abdul Qadir Jailani, Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq [Beirut: Darul Kutub Ilmiyah, 1997]
Komentar
Posting Komentar