Ketika Tubuh Menjadi Jubah, dan Jiwa Mengetuk Pintu Dalam Diri
"Ketahuilah bahwa tubuh hanyalah pakaian. Carilah pemakainya bukan jubahnya." [Jalaluddin Rumi]
Ada saat-saat tertentu ketika kita memandang hidup hanya dari apa yang terlihat di cermin: wajah yang berubah, tubuh yang menua, dan pakaian yang selalu kita rapikan agar tampak pantas di hadapan dunia. Namun para sufi, termasuk Rumi, mengingatkan bahwa yang kita rawat dengan penuh kecemasan itu hanyalah “jubah”—lapisan luar yang kelak ditinggalkan seperti pakaian lama. Di balik jubah itu ada sesuatu yang jauh lebih halus, lebih sunyi, dan lebih abadi: pemakainya, yakni ruh manusia.
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya ruh-(ciptaan)-Nya.”
(QS. As-Sajdah: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa tubuh memang hanya wadah, sementara yang memberi nilai pada manusia adalah ruh yang berasal dari perintah Allah SWT.
Rumi menggunakan perumpamaan tubuh sebagai pakaian bukan untuk merendahkan kehidupan fisik, tetapi untuk menggeser pusat perhatian kita. Manusia modern sangat pandai memoles jubahnya, namun sering lupa siapa yang mengenakannya. Kita menilai diri dari bentuk, ukuran, dan tampilan luar, padahal semua itu hanyalah alat perjalanan. Layaknya pengembara yang memakai mantel untuk melindungi diri, tubuh adalah perlengkapan sementara. Ketika perjalanan usai, mantel itu ditanggalkan.
Para ulama penafsir Masnavi menjelaskan bahwa tubuh adalah sarana yang dipakai ruh untuk berinteraksi dengan dunia. Tanpa tubuh, jiwa tak dapat berbicara, melihat, atau menyentuh. Tetapi tanpa ruh, tubuh tak lebih dari patung yang tak bernyawa. Di sinilah pesan sufi menjadi terang: jangan terpukau pada patungnya, sementara cahaya yang seharusnya memancar dari dalam malah dibiarkan redup.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda dalam sebuah hadits:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
Hadits ini seakan menjadi jembatan makna: bentuk luar tidak menentukan nilai manusia; yang dinilai adalah apa yang bersemayam di dalam—pemakai jubah itu sendiri.
Meski demikian, memahami tubuh sebagai “jubah” bukan berarti kita mengabaikannya. Tasawuf tidak mengajarkan manusia untuk meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia di posisi yang wajar. Tubuh perlu dirawat, tetapi bukan dipertuhankan. Penampilan boleh diperhatikan, tetapi bukan dijadikan dasar nilai diri. Kita memakai dunia, bukan memberi diri kita padanya.
"Temukan bacaan spiritual dan buku-buku yang menuntun perjalanan batin anda"
Ketika seseorang hanya menilai diri dari bentuk fisik, ia hidup di pinggir kesadaran. Namun ketika ia mulai bertanya, “Siapa aku di balik semua ini?”, maka pintu batin terbuka. Para sufi menyebut pintu ini sebagai awal perjalanan pulang: mengenali ruh, lalu mengenali Sang Pemberi Ruh. Dalam jalan tasawuf, mengenali diri bukan sekadar memahami karakter, tetapi menemukan sumber kehidupan yang bergerak di balik setiap hembusan napas.
Rumi mengajak manusia untuk menatap dunia dengan dua mata—mata jasmani yang melihat rupa, dan mata batin yang melihat makna. Bila keduanya bekerja seimbang, kita tidak akan terjebak dalam permainan kulit luar. Kita akan hidup dengan kesadaran bahwa tubuh adalah titipan, jiwa adalah inti, dan waktu di dunia adalah kesempatan untuk kembali mengenali siapa yang berada di balik “jubah” ini.
"Butuh jurnal harian untuk perjalanan spiritual anda?"
Pada akhirnya, kita mungkin hanya perlu mengajukan satu pertanyaan kecil namun mendalam:
“Apakah selama ini aku hanya merawat jubahku, tetapi lupa merawat jiwa yang mengenakannya?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi awal dari perjalanan yang lebih jernih, lebih damai, dan lebih dekat kepada diri sejati—perjalanan yang oleh para sufi disebut sebagai perjalanan pulang.
Sumber ide artikel:
Bait Masnavi Rumi (Daftar III) “tan jâme-ye jân ast…” Penafsiran ulama: Anqarawi, Sabzewari, Nicholson, Zarrinkub. Rujukan Qur’an & Hadits: QS As-Sajdah: 9, HR Muslim.
Ditulis Oleh: Adi Mahardika S.I.Kom
Komentar
Posting Komentar