Menjernihkan Hati

Hati adalah faktor penentu tindakan manusia. Meski dipengaruhi oleh pemikiran dan pengetahuan, hati dianggap sebagai pusat kepribadian manusia. Nabi SAW menjelaskan dalam hadits bahwa sepotong daging (hati) menentukan keadaan seluruh tubuh. Jika hatinya baik maka  seluruh tubuhnya juga baik. Tapi jika hati salah, maka  seluruh tubuh juga salah. 

Tidak dapat dipungkiri, hati manusia yang  terlahir suci bisa saja menjadi kotor. Hanya Tuhan  yang mengetahui isi hati manusia. Penampilan tidak bisa menentukan apa yang ada di dalam. Banyak orang yang baik di luarnya namun buruk hatinya. Sebaliknya, ada orang yang tampak buruk diluarnya namun memiliki hati yang baik. Jadi, sebagai umat Islam, kita harus selalu bercermin pada diri sendiri terus memperbaiki diri untuk menjernihkan hati. Iri hati, dengki, kesombongan dan penyakit hati lainnya dapat disucikan. 

Syekh Ibnu Atha'illah dalam kitab Taj al-'Arus mengatakan Ada empat hal yang dapat membantu menjernihkan Hati:

1) Banyak berdzikir.
2) Banyak Diam.
3) Banyak Berkhalwat.
4) Kurangi makan dan minum.

Menurut Dr. Muhammad Najdat bahwa Syekh Ibnu Atha'illah menjelaskan kepada kita bagaimana caranya menjernihkan hati.

Pertama, dzikir kepada Allah akan menyucikan hati dari kesesatan dan ketergantungan pada selain Dia.  Hati yang  mudah berdzikir adalah hati yang  mengenal keimanan, mengetahui nikmatnya beribadah, merasakan manisnya ketaatan dan bertakwa kepada Allah. Hati yang selalu mengingat Allah akan bergetar ketika nama-Nya disebut, dan hati menjadi lebih lembut dan bersih dari kotoran.

Allah SWT Berfirman dalam (QS Az-Zumar (39) ayat 23)

"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya."

Seseorang yang berdzikir mengingat Allah secara lisan tidak disebut dzikir jika hatinya tidak terlibat dalam dzikir. Hati harus menjadi sumber dzikir bagi mulut dan anggota tubuh lainnya.

Kedua, Banyak diam. Tergelincirnya lisan karena terlalu banyak bicara dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Diam adalah emas. Di dalamnya terkandung hikmah yang sangat mendalam. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka ia hendaklah mengucapkan hal yang baik atau diam".

Imam Syafii r.a. berkata:
Mereka bertanya: “Mengapa kamu diam ketika ada yang menghina kamu?

Lalu saya mengatakan kepadanya:
"Menjawab adalah kunci keburukan. Sedangkan berdiam dihadapan orang bodoh itu mulia. Itu juga merupakan upaya menjaga kehormatan. Singa tidak takut meski  diam. Sedangkan anjing diabaikan, meski terus menggonggong".

Ketiga, memperbanyak berkhalwat. Dalam kesendirian kita merenung dan bersentuhan dengan realitas yang lebih tinggi dan menjernihkan hati kita dari kotoran dunia. Merasa lemah, tak berdaya dan  merasa hanya Allah satu-satunya tempat bergantung. Hatinya hanya diisi dengan tasbih, takbir, tahlil dan sholawat Nabi.

Keempat, mengurangi asupan makanan dan minuman atau  memperbanyak puasa sunnah. Dengan cara ini, kita mematahkan hawa nafsu dan melunakkan hati yang keras. Dengan mengurangi asupan makanan dan minuman, sebenarnya kita belajar mengendalikan hawa nafsu, mengendalikan emosi, belajar qanaah dan zuhud.

Imam Al-Ghazali rahimahullah menjelaskan bahwa rasa lapar akan menjernihkan hati, membangkitkan tekad dan mempertajam mata hati. Sebaliknya rasa kenyang dapat menumpulkan hati, membutakan hati, dan mengganggu pikiran.

Menurutnya, rasa lapar juga dapat melembutkan hati dan menjernihkan hati, karena hanya dengan hati seseorang dapat mencapai ketaatan, merasakan manfaat dzikir dan nikmatnya bermunajat kepada Allah SWT.

Sumber: Kutipan Kitab Taj Al-'Arus karya Syekh Ibnu Atha'illah, syarah Dr. Mohammed Najdat 
Ditulis Oleh: Adi Mahardika S.I.Kom

Follow Us:   Facebook  Twitter  Instagram   


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Tubuh Menjadi Jubah, dan Jiwa Mengetuk Pintu Dalam Diri

Ilmu Yang Bermanfaat X Ilmu Yang Tidak Bermanfaat

Hindari Kefakiran Dan Keputusasaan