" Ketahuilah bahwa tubuh hanyalah pakaian. Carilah pemakainya bukan jubahnya." [ Jalaluddin Rumi] Ada saat-saat tertentu ketika kita memandang hidup hanya dari apa yang terlihat di cermin: wajah yang berubah, tubuh yang menua, dan pakaian yang selalu kita rapikan agar tampak pantas di hadapan dunia. Namun para sufi, termasuk Rumi, mengingatkan bahwa yang kita rawat dengan penuh kecemasan itu hanyalah “jubah”—lapisan luar yang kelak ditinggalkan seperti pakaian lama. Di balik jubah itu ada sesuatu yang jauh lebih halus, lebih sunyi, dan lebih abadi: pemakainya, yakni ruh manusia. “Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya ruh-(ciptaan)-Nya.” (QS. As-Sajdah: 9) Ayat ini menegaskan bahwa tubuh memang hanya wadah, sementara yang memberi nilai pada manusia adalah ruh yang berasal dari perintah Allah SWT. Rumi menggunakan perumpamaan tubuh sebagai pakaian bukan untuk merendahkan kehidupan fisik, tetapi untuk menggeser pusat perhatian kita. Manusia moder...
Fenomena yang terjadi di akhirzaman ini banyak orang atau kelompok yang merasa paling berilmu, banyak orang atau kelompok yang mengaku dan merasa paling benar, banyak orang atau kelompok yang mengaku paling selamat, dan sudah merasa ilmunya bermanfaat, akhirnya merasa paling benar dan yang lain salah. Di Akhirzaman ini, tidak hanya orang awam yang terjerumus dalam fitnah tapi orang-orang yang merasa "Sipaling" inilah yang sejatinya ikut dalam fitnah dan terjebak dalam lumpur kotor didalam qolbnya, padahal ilmu Allah itu sangatlah luas. Jika kita melihat setiap doa yang dipanjatkan oleh Nabi SAW tentang ilmu, sebagian besar doa adalah permohonan agar ilmu dapat memberikan manfaat. Diantaranya adalah doa Nabi Ini “ Allahumma inni asaluka ‘ilman nafi’a, warizqan thoyyiba, wa’amalan mutaqabbala ”; “Ya Allah sesungguhnya aku memohonan kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal baik yang diterima”. Oleh karena itu, sangat penting bahwa kita memiliki ilmu,...
Setiap orang selalu diuji oleh Allah SWT dalam berbagai permasalahan, salah satunya kemiskinan dan kefakiran. Namun tidak ada seorang pun yang bisa menghindari kehidupan ini jika mereka memang ditakdirkan untuk hidup dalam kefakiran. Namun, ada beberapa cara dan upaya yang bisa kita lakukan agar tidak mudah putus asa saat kita hidup dalam fakir atau kemiskinan. Syekh Abdul Qadir Al Jilani, yang juga dikenal sebagai "Raja Para wali'' (Sulthanul Auliya), memberi kita nasehat dan bimbingan dalam menghadapi pahitnya hidup ini. Nasihat berharga Syekh Abdul Qadir Al Jilani membantu kita dan menjembatani hidup kita menuju stabilitas dalam menghadapi kesulitan. Syekh Abdul Qadir Jailani mengutarakan sederet tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi kefakiran. Orang fakir yang mengeluh dan meratapi nasibnya dinilai sebagai perbuatan sia-sia yang tidak membawa manfaat. Dari sudut pandang ini, Syekh Abdul Qadir berpendapat bahwa orang fakir bisa menikmati kefakira...
Komentar
Posting Komentar