Kaya Dzahiriah Zuhud Batiniah

Di zaman modern yang diwarnai dengan kehidupan duniawi (hedonisme) dan materialisme, manusia selalu sibuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Hal ini sejalan dengan tuntutan dan kebutuhan gaya hidup yang semakin kompetitif seiring dengan semakin berorientasinya globalisasi pada bisnis. Jadi, manusia hidup di dunia ini ingin menjadi kaya raya dengan cara apa pun, baik halal maupun haram. Keinginan menjadi kaya bukan lagi suatu keharusan, melainkan sudah menjadi kualitas dasar manusia modern.

Faktanya, Islam tidak pernah melarang umatnya untuk menjadi seorang kaya dan menganjurkan mereka untuk mengingat perannya di dunia dan di akhirat. Islam menganjurkan keseimbangan antara kepentingan duniawi dan akhirat sebagaimana firman Allah SWT: (QS. Al-Kashash: 77) “… Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah padamu kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan dunia”. 

Dan dikuatkan dengan Hadits Nabi SAW Diriwayatkan oleh Al-Khatib dari Anas Ra: “Sebaik-baik kamu adalah orang yang tidak meninggalkan akhirat untuk memperoleh dunianya dan tidak meninggalkan dunianya untuk memperoleh akhiratnya (tetapi harus keduanya) dan janganlah kamu membuat susah masyarakat”.

Islam tidak membenarkan hati kita terlalu terikat pada harta benda sehingga kita lupa atau melalaikan kewajiban kita untuk menaati dan beribadah kepada Allah. Inilah hakikat dari sifat zuhud (menghindari dunia). Banyak orang secara keliru percaya bahwa zuhud harus miskin dan menderita tanpa harta benda. Padahal makna zuhud yang sebenarnya adalah seperti yang dijelaskan oleh sufi besar Sufyan as-Tsauri. “Memendekkan angan-angan hati kita kepada urusan dunia bukan berarti makan yang tidak enak dan berpakaian compang-camping”.

Seperti halnya jika ada orang kaya namun hati dan pikiran tidak selalu mementingkan hal-hal duniawi berarti orang tersebut zuhud sebaliknya jika ada orang yang miskin tetapi hatinya selalu memikirkan hal-hal duniawi berarti ia tidak zuhud atau hubbud dunya. Intinya, zuhud itu dilihat dari hati, bukan dari sudut pandang kekayaan atau kemiskinan.

Arti zuhud sendiri dalam Al-Qur'an dijelaskan pada (QS al-Hadid:23). “Supaya kau tidak berputus asa terhadap sesuatu yang telah hilang di hadapanmu dan tidak terlalu gembira terhadap karunia yang datang padamu”.

Penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihyanya sangatlah unik: “Az-Zuhdu fi az-Zuhdi bin idhari diddihi” (zuhud dalam pengertian zuhud yang sebenarnya adalah menampakkan perbuatan yang seolah-olah bertentangan dengan zuhud itu sendiri). Beliau menafsirkannya sebagai kesempatan seorang arif yang zuhud adalah meninggalkan syahwatnya karena Allah, tetapi terkadang juga menampakan dirinya mengikuti syahwatnya untuk menutupi kesufiannya dimata orang-orang sehingga tidak terganggu dengan penilaian orang-orang seperti halnya dihormati, dipuji, dikultuskan, diagungkan dan dicela.

“Ketahuilah, banyak orang mengira, orang yang meninggalkan harta duniawi adalah orang yang zuhud (zahid). Padahal tidak mesti demikian. Pasalnya, meninggalkan harta dan berpenampilan “buruk” itu mudah dan ringan saja bagi mereka yang berambisi dipuji sebagai seorang zahid,”

Dalam Islam, kejayaan bisa menjadi terpuji jika digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan  dunia dan agama. Oleh karena itu, dalam al-Qur’an Allah sering menyebut harta dengan khair (kebaikan), dan banyak atau sedikitnya rezeki tidak ditentukan oleh ketakwaan seseorang, melainkan justru ditetapkan dalam catatan amalnya, seperti sabda Nabi Muhammad SAW: “Rezeki telah dibagi dan dialokasikan sesuai bagian yang telah ditentukan. Ketakwaan seseorang tidak berarti menambah rezekinya dan kefasikan seseorang tidak pula berarti mengurangi rezekinya”.

Sufi terkenal Said bin Musayyab pernah berkata: “tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau mengumpulkan harta dari barang halal". Bahkan Sufyan as-Tsauri menegaskan bahwa “harta dizaman sekarang adalah senjata ampuh bagi orang mukmin". Nabi SAW sendiri mengakui pentingnya harta  sebagai penunjang kehidupan manusia modern, baik dalam urusan duniawi maupun dalam agama, sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan At-Thabrani: “Apabila akhir zaman datang maka penopang agama dan dunia seseorang adalah dirham dan dinar”.

Gaya hidup Rasulullah SAW menggoreskan sejarah hidupnya dengan kesederhanaan, namun bukan berarti beliau memerintahkan atau menganjurkan kita untuk hidup miskin. Karena kenyataannya banyak para sahabatnya yang kaya raya, bahkan ia menikahkan putrinya dengan sahabtnya yang kaya raya, Ustman bin Affan Ra. Ketika Allah SWT menawarkan kehidupan yang berkelimpahan, beliau menjawab karena dua alasan. Pertama, beliau malu kepada para nabi dan rasul terdahulu karena mereka mengalami penderitaan yang luar biasa dalam menyampaikan risallah Allah SWT, tidak hanya kelaparan dan kemiskinan, tetapi juga penghinaan, penyiksaan dan cobaan yang datang silih berganti, namun mereka tetap memiliki kesabaran dan ketabahan.

Ketika beliau ditanya tentang kebiasaan orang yang berpakaian indah dan memakai perhiasan yang indah, beliau menjawab: Inna Allah jamilun yuhibbul jamal (Allah adalah Tuhan yang Maha Indah dan menyukai keindahan). Beliau juga memberikan alasan kepada umatnya bahwa mereka boleh hidup kaya asalkan mereka taat dan tidak mengabaikan kewajiban Allah SWT. Adapun beliau menghibur umatnya yang hidup dalam kemiskinan, meyakinkan mereka bahwa selama mereka sabar dan menerima, Allah SWT akan memberikan orang miskin anugrah yang lebih banyak daripada orang kaya di akhirat.

Menariknya, ada penjelasan yang diberikan oleh Sufi Besar Imam as-Syadzili. Dari penjelasannya beliau memberikan pembenaran yang kuat bahwa kaum sufi boleh hidup mewah di dunia dengan catatan memakai pakaian mahal dengan niat menunjukkan nikmat kepada Allah SWT, bukan memuaskan nafsunya. Dan juga makan dan minum yang nikmat agar seluruh anggota badannya dapat mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya. Bahkan beliau tidak menghendaki seorang sufi yang miskin, lusuh, kumal, dekil dan kucel. Sejarah telah membuktikan hal tersebut, ia selalu mengenakan pakaian mewah dan mahal, kendaraan yang bagus, serta memiliki berbagai fasilitas mewah yang  sangat berbeda dengan gaya hidup seorang sufi pada umumnya.

Beliaupun tetap mempunyai reputasi dan nama baik sebagai seorang sufi besar yang menjadi panutan dan dikagumi hingga saat ini. Sebab pada kenyataannya, ia memanfaatkan fasilitas mewah dunia semata-mata untuk beribadah kepada Allah dan kepentingan umum umat Islam di zamannya, yakni menyelenggarakan ibadah sosial yang dianjurkan dalam Islam. Imam as-Syadzili digambarkan gaya hidup mewahnya dalam sebuah kisah. 

Suatu hari, Ada seseorang meminta untuk bertemu dengan Imam Abu Hasan Ali al-Syadzili di rumahnya. Dia belum mengetahui rumahnya, maka dia bertanya kepada orang lain, dan orang tersebut segera pergi ke tempat yang ditunjukkan, dan ketika dia sampai di alamat tersebut, dia menemukan sebuah rumah yang bentuknya seperti istana kerajaan, jadi dia tidak masuk ke dalam rumah tersebut, karena dia telah melihat bangunan rumah yang sangat megah bak istana raja yang megah dan indah.

Dia tidak percaya bahwa ini adalah rumah tempat tinggal seorang imam yang dia cari. Dalam hatinya, ia yakin bahwa seorang wali tidak akan pernah hidup mewah seperti itu. Seorang wali adalah orang yang menjalani kehidupan sederhana dan mengamalkan zuhud, atau menjauh dari dunia. Melihat kenyataan tersebut, ia pun segera pulang ke rumah, namun di tengah perjalanan ia bertemu dengan pengemudi kereta kuda mewah yang memintanya untuk ikut bersamanya. Meski sangat cemas, dia akhirnya  menerima tawaran pria itu. Dalam perbincangan di dalam kereta, terungkap bahwa pengendara kereta tersebut tak lain adalah Imam Abu Hasan al-Syadzili sendiri.

Saat mengetahui siapa yang didalam kereta, dia tidak berani menyembunyikan niat awalnya dan mengatakan bahwa dia sebenarnya  baru saja pergi ke rumahnya. Namun niat tersebut digagalkan karena ia tidak meyakini bahwa rumah tersebut adalah rumah seorang Imam. Ketika Imam Abu Hasan mendengar hal ini, dia memberinya segelas anggur pilihan. Orang tersebut sangat kagum karena dia belum pernah melihat atau meminum anggur seperti itu seumur hidupnya. Kekaguman ini membuatnya takut anggurnya akan tumpah atau gelasnya akan terlepas dari tangannya. Belum lagi kereta yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan tinggi melintasi kota. Jadi seluruh perhatiannya terfokus pada gelas dan anggur, sehingga ia tidak bisa menikmati indahnya perjalanan dan indahnya pemandangan kota sekitarnya.

Setelah menyelesaikan keliling kota, kereta  berhenti di depan rumahnya sang Imam tanpa orang tersebut menyadarinya, karena dia terus berkonsentrasi pada anggurnya. Hal ini baru tersadar ketika sang Imam bertanya kepadanya. " Bagaimana perjalanan tadi, apakah kamu  menikmati keindahan kota ini?'' Dia tidak bisa menjawab. Karena yang dilihat selama perjalanan hanyalah anggur di tangannya. Sebelum pria itu sempat menjawab, Imam Syadzili melanjutkan bicaranya. “Sekarang antara kamu, keindahan kota ini dan anggur di tanganmu seperti aku sendiri dengan hartaku dan Allah dalam batinku. Karena perhatianku tertuju pada Allah, Saya tidak  peduli kota ini indah atau tidak." Orang itu memahami apa yang dilihat dan dengar olehnya. Ia senang karena mendapat pelajaran Zuhud dari sang Imam.

Sumber: Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H]. Manaqib sang qutub agung, sejarah kehidupan shultonul auliya' Is Syayyidi shaikh Abil Hasan Al Syadzili

Ditulis Oleh: Adi Mahardika S.I.Kom

Follow Us:   Facebook  Twitter  Instagram   




 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Tubuh Menjadi Jubah, dan Jiwa Mengetuk Pintu Dalam Diri

Ilmu Yang Bermanfaat X Ilmu Yang Tidak Bermanfaat

Hindari Kefakiran Dan Keputusasaan